BISNIS.HOTNEWS.ID - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan informasi mengenai kinerja pengelolaan devisa ekspor yang signifikan. Angka tersebut merujuk pada nilai yang berhasil dikelola oleh Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) setelah beroperasi selama lebih dari satu bulan.
Rosan Roeslani, selaku Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, memberikan penjelasan mendalam terkait klaim pengelolaan devisa ekspor sebesar US$ 10,5 miliar. Angka ini merupakan hasil dari upaya konsolidasi data ekspor yang mulai diimplementasikan.
Sistem terintegrasi ini mulai aktif dijalankan sejak 1 Juni 2026. Tujuannya adalah untuk memungkinkan pemerintah memantau seluruh aktivitas ekspor secara komprehensif.
"Jadi kita mulai dari 1 Juni sampai Juli, tepatnya per minggu lalu, kita sudah bisa menarik data dari semua instansi atau kementerian," jelas Rosan Roeslani.
Beliau menambahkan bahwa integrasi data mencakup berbagai kementerian dan lembaga yang relevan dengan kegiatan ekspor. Hal ini memastikan transparansi dan akurasi dalam pencatatan.
"Dari Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, dan terus beberapa instansi lainnya," tegas Rosan Roeslani.
Pernyataan ini disampaikan oleh Rosan Roeslani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 20 Juli 2026. Lokasi ini menjadi saksi bisu pengungkapan capaian signifikan tersebut.
Adanya sistem ini memungkinkan konsolidasi data dari berbagai sumber, menciptakan gambaran menyeluruh mengenai pergerakan devisa negara dari sektor ekspor. Ini adalah langkah strategis dalam pengelolaan ekonomi nasional.
"Kita sudah bisa menarik data dari semua instansi atau kementerian. Dari Bea Cukai, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, dan terus beberapa instansi lainnya," ujar Rosan Roeslani.