BISNIS.HOTNEWS.ID - Harga minyak mentah dunia terpantau stabil mendekati level tertinggi sejak pertengahan Juni. Kondisi ini memberikan tekanan pada pasar saham dan obligasi di Amerika Serikat.
Peningkatan konflik di kawasan Timur Tengah dinilai lebih dominan dibandingkan dengan upaya-upaya yang digencarkan untuk menghentikan perang. Hal ini menciptakan ketidakpastian yang meluas di pasar global.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami pembukaan yang stabil. Para pelaku pasar mencermati potensi gangguan pada ekspor minyak dari Arab Saudi.
Ancaman dari pemberontak Houthi untuk memblokade jalur ekspor utama melalui Laut Merah menjadi perhatian utama. Gangguan ini berpotensi memicu kenaikan harga energi.
Kekhawatiran akan lonjakan biaya energi yang dapat memicu inflasi lebih lanjut turut memicu kerugian pada pasar obligasi. Investor cenderung mencari aset yang lebih aman.
Kontrak berjangka ekuitas di Sydney dan Hong Kong menunjukkan tren penurunan. Sementara itu, kontrak S&P 500 terpantau stabil setelah mengalami penurunan pada hari Senin.
"Situasi Iran terus mengguncang pasar," ujar seorang ahli strategi veteran. "Ini menghambat kenaikan saham yang seharusnya diharapkan mengingat tren pendapatan yang kuat."
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Iran akan bertanggung jawab atas kematian tiga tentara AS dalam beberapa hari terakhir. Pernyataan ini disampaikan meskipun ada upaya mediasi untuk mengusulkan gencatan senjata baru.
Arab Saudi menyatakan akan mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ancaman dari militan Houthi yang didukung oleh Teheran di Yaman.