BISNIS.HOTNEWS.ID - Konflik di Timur Tengah dilaporkan semakin memanas dengan adanya insiden serangan terhadap fasilitas energi penting di Kuwait. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran baru mengenai keamanan infrastruktur sipil di kawasan yang bergejolak.
Pemerintah Kuwait mengonfirmasi pada hari Jumat bahwa sebuah pabrik desalinasi dan pembangkit listrik menjadi sasaran serangan. Akibatnya, sejumlah unit penting di fasilitas tersebut mengalami kerusakan yang signifikan.
Serangan ini menandai dinamika baru dalam eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, fasilitas serupa di Kuwait pernah menjadi target pada puncak perang AS-Iran antara Maret hingga awal April.
Namun, ini adalah pertama kalinya Teheran diduga menargetkan infrastruktur kelistrikan selama periode peningkatan tensi terbaru antara kedua negara yang berseteru. Hal ini menunjukkan potensi perluasan dampak konflik ke sektor vital.
Pihak berwenang Kuwait segera berupaya memulihkan operasional unit-unit yang rusak. Upaya pemadaman api akibat serangan juga telah dilakukan secara intensif.
Kementerian Listrik dan Air Kuwait menyampaikan melalui platform X bahwa mereka sedang bekerja keras untuk mengaktifkan kembali unit-unit yang terpengaruh. Upaya ini dilakukan untuk meminimalkan dampak terhadap pasokan energi.
"Sebuah pabrik desalinasi dan pembangkit listrik menjadi objek serangan, dengan banyak unit mengalami kerusakan," demikian disampaikan oleh pemerintah Kuwait pada hari Jumat.
"Ini merupakan kali pertama Teheran menargetkan infrastruktur listrik selama eskalasi terbaru antara kedua negara yang bertikai tersebut," demikian kutipan dari artikel asli yang mengindikasikan perubahan taktik dalam konflik.
"Pihak berwenang negara Arab Teluk tersebut sedang berusaha mengaktifkan kembali unit-unit yang rusak dan telah memadamkan kebakaran yang disebabkan oleh serangan tersebut," demikian pernyataan dari Kementerian Listrik dan Air melalui X.