BISNIS.HOTNEWS.ID - Peningkatan kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Kondisi ini berpotensi membawa harga minyak mentah ke dalam sebuah "normal baru" yang diperkirakan berkisar antara US$70 hingga US$80 per barel.

Fenomena ini diungkapkan oleh Ekonom Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet. Ia menilai bahwa eskalasi konflik, termasuk serangan AS ke beberapa wilayah Iran dan pemberlakuan kembali sanksi minyak mentah Iran, telah memasukkan kembali premi risiko ke dalam penetapan harga komoditas energi tersebut.

"Serangan AS ke sejumlah wilayah di Iran dan kembali berlakunya sanksi terhadap minyak mentah Iran membuat premi risiko kembali masuk ke harga minyak mentah," ujar Yusuf Rendy Manilet.

Menurut Yusuf, dinamika ini bukanlah sebuah kejutan yang sepenuhnya baru, melainkan sebuah pembalikan dari tren normalisasi yang sebelumnya telah mulai terlihat. Oleh karena itu, ia berpandangan bahwa pemulihan pasokan minyak mentah global diperkirakan hanya akan mengalami gangguan, bukan kegagalan total.

Sebelumnya, pasar minyak global memproyeksikan bahwa produksi dan perdagangan minyak akan berangsur-angsur kembali ke level normal menjelang akhir tahun. Namun, meningkatnya tensi geopolitik berpotensi menunda proses normalisasi tersebut.

Hal ini dikarenakan pelaku pasar kini kembali mengambil sikap hati-hati dalam pengisian stok mereka. Selain itu, kelancaran arus pengiriman melalui Selat Hormuz pun belum sepenuhnya pulih akibat situasi yang memanas.

"Karena itu, saya melihat harga minyak kini berada pada fase yang bisa disebut sebagai normal baru," kata Yusuf Rendy Manilet.

Ia menambahkan, "Ketegangan geopolitik tetap tinggi, tetapi pasar masih berasumsi Selat Hormuz tidak akan ditutup sepenuhnya. Itulah sebabnya kenaikan harga sejauh ini masih relatif terukur," ungkapnya ketika dihubungi pada Senin, 13 Juli 2026.

Situasi ini menyoroti kerentanan pasar energi global terhadap gejolak geopolitik, terutama yang melibatkan jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz. Para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan situasi untuk mengantisipasi pergerakan harga minyak selanjutnya.