BISNIS.HOTNEWS.ID - Bursa saham Amerika Serikat dilaporkan mengalami pelemahan pada perdagangan Senin (13/7/2026) waktu setempat. Penurunan ini terjadi seiring dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Pemicu utama pelemahan ini adalah keputusan Presiden Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Indeks S&P 500, yang menjadi barometer kinerja saham-saham besar di AS, mengakhiri tren penguatan dua hari beruntun dengan ditutup turun 0,8% di New York. Kondisi serupa juga dialami indeks Nasdaq 100.

Indeks Nasdaq 100, yang mayoritas dihuni oleh saham-saham perusahaan teknologi, menunjukkan pelemahan yang lebih dalam. Indeks ini merosot hingga 1,9%, mencerminkan sentimen negatif yang lebih luas di sektor teknologi.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent terpantau mengalami kenaikan signifikan. Komoditas energi vital ini diperdagangkan di kisaran US$84 per barel, mencerminkan dampak langsung dari ketegangan geopolitik.

Chris Beauchamp, Kepala Analis Pasar IG, menjelaskan bahwa keputusan AS untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui blokade kembali telah mendorong kenaikan harga minyak. Namun, ia mencatat bahwa reaksi pasar sejauh ini masih relatif tenang.

"Keputusan untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui pemberlakuan kembali blokade telah mendorong kenaikan harga minyak. Namun, reaksi pasar masih relatif tenang dibandingkan potensi gangguan terhadap pasokan," ujar Chris Beauchamp.

Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tersebut melalui media sosial. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menerima kompensasi sebesar 20% atas seluruh kargo yang dikirim melalui Selat Hormuz.

Kebijakan blokade ini diberlakukan kembali menyusul serangkaian aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, muncul pula informasi yang saling bertentangan mengenai status keamanan Selat Hormuz.