BISNIS.HOTNEWS.ID - Peningkatan literasi anak di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) menjadi fokus penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Tantangan ini masih dihadapi oleh sebagian besar anak usia sekolah di berbagai penjuru negeri.
Berdasarkan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, angka buta huruf pada anak usia 5 hingga 17 tahun tercatat sebesar 7,10 persen.
Angka tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan, di mana anak-anak yang tinggal di wilayah pedesaan dan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu memiliki tingkat buta huruf yang lebih tinggi.
Provinsi Maluku Utara menjadi salah satu daerah yang angka literasinya sedikit berada di atas rata-rata nasional. Tercatat sebesar 7,19 persen anak di Maluku Utara belum memiliki kemampuan membaca dan menulis.
Hal ini berarti, dari setiap seratus anak di Maluku Utara, masih ada sekitar tujuh anak yang menghadapi kesulitan dalam menguasai keterampilan dasar membaca dan menulis.
Menyadari urgensi ini, Harita Nickel mengambil langkah konkret untuk mendukung program literasi bagi anak-anak di wilayah 3T, khususnya di Pulau Obi, Maluku Utara.
Perusahaan ini membangun sebuah fasilitas yang dinamakan Rumah Belajar. Fasilitas ini diharapkan dapat menjadi wadah edukasi yang memadai bagi anak-anak di daerah tersebut.
Pembangunan Rumah Belajar ini merupakan wujud komitmen Harita Nickel dalam meningkatkan akses pendidikan dan kualitas literasi anak-anak di Pulau Obi.
Melalui program ini, diharapkan lebih banyak anak di wilayah terpencil dapat merasakan kemudahan dalam belajar membaca dan menulis.