BISNIS.HOTNEWS.ID - Kondisi inflasi di Amerika Serikat terus menjadi sorotan utama para pembuat kebijakan moneter di Federal Reserve (The Fed). Kekhawatiran ini semakin mengemuka seiring dengan data yang menunjukkan bahwa tekanan kenaikan harga belum sepenuhnya mereda sesuai harapan bank sentral.

Salah satu tokoh kunci yang menyuarakan keresahan ini adalah Gubernur The Fed Chicago, Austan Goolsbee. Ia secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya masih menaruh perhatian besar terhadap perkembangan inflasi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Goolsbee mempertanyakan asumsi bahwa semua faktor pendorong kenaikan harga saat ini bersifat sementara. Hal ini mengindikasikan adanya keraguan mengenai apakah tekanan inflasi akan segera hilang tanpa intervensi kebijakan yang lebih agresif.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Senin melalui program radio Marketplace milik American Public Media, Goolsbee memberikan pandangannya yang tegas mengenai situasi ekonomi.

"Kita telah menghadapi masalah inflasi yang jauh di atas target dan arahnya justru bergerak ke arah yang salah," kata Goolsbee.

Keputusan kebijakan suku bunga The Fed pekan lalu menunjukkan sikap hati-hati, di mana suku bunga dipertahankan tidak berubah. Namun, proyeksi internal yang dirilis setelah pertemuan tersebut mengisyaratkan adanya potensi kenaikan suku bunga setidaknya sekali lagi sepanjang tahun ini.

Inflasi di Amerika Serikat sendiri telah gagal mencapai target 2% The Fed selama lebih dari lima tahun terakhir. Situasi ini diperparah dengan peningkatan laju inflasi dalam beberapa bulan belakangan, memicu kekhawatiran serius di kalangan pejabat bank sentral.

Para pejabat The Fed kini menghadapi dilema, khawatir bahwa mempertahankan suku bunga pada level saat ini mungkin tidak cukup efektif untuk sepenuhnya meredakan tekanan harga yang sedang terjadi di pasar.

Kenaikan inflasi pada bulan Mei tercatat mencapai laju tercepat dalam periode lebih dari tiga tahun terakhir. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor eksternal, termasuk lonjakan biaya energi akibat konflik di Iran, yang pada gilirannya mengikis daya beli atau kenaikan pendapatan riil masyarakat Amerika.