BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan harga minyak mentah dunia mengalami tekanan pelemahan signifikan menyusul adanya perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran. Para pelaku pasar kini tengah menganalisis implikasi dari tercapainya sebuah pakta perdamaian sementara antara kedua negara tersebut.

Kesepakatan penting ini dikonfirmasi telah rampung ditandatangani secara digital oleh presiden dari kedua belah pihak. Informasi ini didapatkan melalui penyiaran televisi negara Republik Islam Iran serta konfirmasi dari salah satu pejabat tinggi di pemerintahan AS.

Dilansir dari Bloomberg, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) menunjukkan tren penurunan tajam, mendekati level harga US$76 per barel. Penurunan ini terjadi pasca sesi perdagangan hari Rabu (17/6) yang sempat menunjukkan volatilitas tinggi, meskipun ditutup sedikit menguat untuk pasar Amerika Serikat.

Sementara itu, patokan minyak global jenis Brent juga terpengaruh, ditutup secara resmi di bawah ambang batas psikologis US$80 per barel. Kondisi ini mengindikasikan adanya perubahan sentimen pasar yang besar terkait risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kesepakatan ini membawa potensi besar untuk mengembalikan aliran jutaan barel minyak mentah ke pasar global. Hal ini terkait dengan prospek dimulainya kembali lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz yang sebelumnya sempat terblokade.

Blokade ganda tersebut merupakan respons Iran terhadap serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada akhir Februari lalu, yang bertujuan membatasi program nuklir Teheran. Selat Hormuz sendiri adalah jalur maritim krusial yang biasanya mengangkut sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia.

"Harga minyak mentah kini telah kehilangan hampir seluruh kenaikan yang sempat terjadi selama konflik berlangsung," demikian analisis yang muncul dari pergerakan pasar terkini.

Meskipun terjadi penurunan harga, tekanan terhadap ketersediaan pasokan global masih dirasakan oleh pasar. Stok minyak di Cushing, Oklahoma, pusat penyimpanan komersial terbesar di AS, dilaporkan telah menyusut hingga menyentuh angka sekitar 20 juta barel.

"Angka tersebut dianggap oleh banyak pelaku pasar sebagai batas minimum operasional," demikian pernyataan yang disimpulkan berdasarkan pandangan para pedagang minyak.