BISNIS.HOTNEWS.ID - Kekhawatiran pasar keuangan global kembali membayangi dengan memanasnya situasi di Selat Hormuz. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah ini menjadi sorotan utama yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi.

Perhatian para investor kini tertuju pada bagaimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan merespons dinamika global ini. Kemampuannya mempertahankan tren penguatan menjadi pertanyaan krusial di tengah ketidakpastian.

Di sisi lain, datang kabar baik dari Amerika Serikat yang memberikan sedikit kelegaan. Data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) untuk Juni 2026 menunjukkan tren penurunan yang positif.

Angka inflasi di AS tercatat melandai ke level 3,5% secara tahunan (year-on-year). Angka ini merupakan perbaikan yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 4,2%.

Perkembangan positif ini berpotensi memberikan sentimen yang berbeda bagi pasar keuangan, menawarkan kontras dengan gejolak di Timur Tengah.

"Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah ini menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati secara seksama oleh para investor," demikian pernyataan yang dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM.

"Di tengah kekhawatiran tersebut, muncul kabar positif dari Amerika Serikat terkait data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) pada Juni 2026," lanjut pernyataan tersebut.

Penurunan inflasi AS ini secara umum dapat memberikan dorongan bagi stabilitas ekonomi global. Dampaknya terhadap penguatan nilai tukar Rupiah dan pergerakan IHSG patut untuk terus dipantau.

Oleh karena itu, investor perlu mencermati kedua faktor ini secara seimbang untuk mengambil keputusan strategis dalam menghadapi dinamika pasar.