BISNIS.HOTNEWS.ID - Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangkaian serangan udara baru yang menyasar fasilitas Iran pada hari Rabu, 15 Juli. Tindakan ini merupakan eskalasi dari ketegangan yang terus memanas antara kedua negara.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah berjanji untuk meningkatkan tekanan militer hingga Iran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Tujuannya adalah memastikan jalur pelayaran vital tersebut kembali terbuka sepenuhnya.
Operasi militer intensif selama 90 menit tersebut menargetkan fasilitas penyimpanan dan situs peluncuran rudal di Pulau Tunb Besar. Lokasi ini berada di kawasan Teluk Persia, dekat dengan selat strategis yang menjadi sorotan.
Gelombang serangan kedua dilaporkan terjadi pada pukul 15.00 waktu Amerika Serikat Timur. Informasi ini dikonfirmasi secara resmi oleh Komando Pusat AS (US Central Command).
Peristiwa ini menandai hari kelima berturut-turut aksi militer agresif AS terhadap Iran. Sebelumnya, pada Selasa malam, pasukan AS juga dilaporkan telah menghantam beberapa target militer Iran.
Aksi AS tersebut langsung memicu respons dari Teheran. Iran dilaporkan melakukan serangan balasan yang menyasar pangkalan-pangkalan militer AS di beberapa negara Arab Teluk, termasuk Kuwait dan Bahrain.
"Militer Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan gelombang serangan udara baru ke Iran pada hari Rabu (15/7)," demikian dikutip dari Bloomberg News.
"Aksi ini dilakukan setelah Donald Trump berjanji akan terus mengintensifkan serangan, sampai pihak Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan sepakat untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut," lanjut kutipan dari Bloomberg News.
"Dalam operasi militer yang berlangsung selama 90 menit, pasukan AS menggempur fasilitas penyimpanan serta situs peluncuran rudal di Pulau Tunb Besar yang terletak di kawasan Teluk Persia dekat selat tersebut," ujar Kate Sullivan, Fiona MacDonald, dan Catherine Lucey dari Bloomberg News.