BISNIS.HOTNEWS.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimis bahwa nilai tukar Rupiah akan menunjukkan tren penguatan dalam waktu dekat. Keyakinan ini didasarkan pada sejumlah analisis ekonomi terkini, termasuk proyeksi dari lembaga pemeringkat global terkemuka.

Optimisme ini turut diperkuat dengan adanya analisis dari Standard and Poor's (S&P) yang telah dirilis sebelumnya. S&P dalam laporannya memberikan pandangan positif terkait pergerakan mata uang Indonesia.

"Kalau anda lihat press release dari S&P kemarin itu disebutkan juga kira-kira rupiahnya akan menguat [ke] 17.000 ke arah yang sesuai dengan target kita," demikian pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa yang dikutip dari tayangan YouTube Humas Jogja pada Jumat, 17 Juli 2026.

Purbaya menjelaskan, perbaikan kondisi ekonomi saat ini mulai terlihat meskipun sempat terjadi fluktuasi pada harga minyak dunia. Namun, ia memprediksi tren kenaikan harga minyak tidak akan seagresif pada periode sebelumnya.

Bendahara negara ini menekankan bahwa stabilitas harga minyak global akan berdampak positif pada prospek perekonomian nasional. Kondisi ini diperkirakan akan membuat Indonesia kembali menarik minat para investor.

Menurut Purbaya, berkurangnya ketidakpastian di tingkat global menjadi faktor kunci yang akan mendorong investor untuk kembali menempatkan dananya di Indonesia.

"Jadi kalau uncertainty global meningkat mereka keluar begitu sudah stabil dia akan masuk lagi enggak lama lagi rupiah menguat," papar Purbaya Yudhi Sadewa.

Proyeksi penguatan Rupiah ini didukung oleh analisis bahwa situasi ekonomi global yang mulai stabil akan memicu kembalinya aliran investasi asing.

Kondisi ini secara langsung akan memperkuat posisi mata uang Rupiah di pasar internasional. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.