BISNIS.HOTNEWS.ID - Lembaga pemeringkat global, Moody's Ratings, kembali menegaskan perhatiannya terhadap tantangan fiskal dan ketidakpastian kebijakan yang dihadapi Indonesia. Situasi ini memperkuat pandangan yang penuh kehati-hatian dari lembaga tersebut, sekaligus memberikan sinyal bahwa risiko penurunan (downside risks) terhadap perekonomian Indonesia kemungkinan besar masih akan terus berlanjut.

Perkembangan positif memang tercatat mewarnai lanskap ekonomi Indonesia, namun secara keseluruhan, bobot risiko justru dilaporkan bergeser ke arah yang "sedikit lebih negatif". Pergeseran ini terjadi sejak Moody's memutuskan untuk menurunkan prospek peringkat Indonesia menjadi negatif pada bulan Februari lalu.

Demikian disampaikan oleh Martin Petch, Vice President Sovereign Risk Division Moody's. Ia menjelaskan bahwa tekanan yang muncul, terutama pasca meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, telah memberikan dampak signifikan terhadap anggaran negara.

"Kami melihat adanya tekanan yang muncul, terutama setelah perang Iran. Kami mencatat subsidi melonjak signifikan dan kondisi tersebut memberikan tekanan pada capaian fiskal untuk tahun ini dan tahun depan," ujar Martin Petch.

Pandangan dari Moody's ini sendiri mencerminkan kekhawatiran yang masih terus membayangi para investor global. Kekhawatiran tersebut utamanya tertuju pada agenda ekonomi yang akan dijalankan oleh Presiden terpilih, Prabowo Subianto.

Keraguan mengenai disiplin fiskal yang ketat, independensi bank sentral, serta besarnya peran pemerintah dalam sektor-sektor ekonomi yang krusial telah menjadi faktor utama yang menekan pergerakan aset-aset Indonesia sepanjang tahun ini.

Kondisi ini kemudian memicu gelombang aksi jual saham dan obligasi. Akibatnya, instrumen surat utang, nilai tukar rupiah, hingga pasar saham Indonesia tercatat sebagai salah satu yang memiliki kinerja terburuk di kawasan Asia.

Kekhawatiran investor ini menjadi sorotan utama di tengah upaya Indonesia menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global yang penuh tantangan.

Dikutip dari Bloomberg News, situasi ini menuntut perhatian serius dari berbagai pihak terkait untuk merumuskan strategi yang tepat.