BISNIS.HOTNEWS.ID - Memasuki akhir pekan, Sabtu (18/7/2026), sejumlah komoditas pangan strategis di Indonesia dilaporkan mengalami lonjakan harga. Kenaikan ini terutama terasa pada harga daging ayam ras serta berbagai jenis cabai, yang menjadi perhatian para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner.

Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, yang diperbarui hingga hari sebelumnya per pukul 08.46 WIB, mencatat adanya pergerakan harga yang signifikan. Fenomena ini mengindikasikan adanya dinamika pasar yang perlu dicermati oleh masyarakat luas.

Bahkan, komoditas pokok seperti beras pun tidak luput dari kenaikan, khususnya pada kelompok beras kualitas bawah. Kondisi ini cukup kontras dengan sebagian besar jenis beras lainnya yang terpantau masih mempertahankan harga stabil di pasaran.

"Harga beras kualitas bawah secara nasional berada di kisaran rata-rata harga Rp14.750 per kilogram (kg) atau naik 0,34%," demikian tercatat dalam data PIHPS Nasional. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga mulai merambah ke segmen beras yang lebih terjangkau.

Selain beras, lonjakan harga juga terjadi pada sektor protein hewani. Daging ayam ras segar dan telur ayam ras segar dilaporkan mengalami kenaikan yang cukup mencolok, menambah beban pengeluaran rumah tangga.

"Harga daging ayam ras segar masing-masing naik 3,92% menjadi Rp38.450 per kg dan telur ayam ras segar naik 1,21% menjadi Rp29.300 per kg," berdasarkan pembaruan data PIHPS Nasional. Kenaikan ini menjadi sorotan utama di pasar tradisional maupun modern.

Komoditas lain yang juga menunjukkan tren kenaikan adalah daging sapi kualitas 1, meskipun peningkatannya tergolong tipis. Selain itu, cabai rawit hijau turut mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan, menambah daftar bahan pangan yang harganya merangkak naik.

"Daging sapi kualitas 1 juga naik tipis 0,03% menjadi Rp150.600 per kg. Komoditas lainnya yang juga naik harga terpantau adalah cabai rawit hijau hingga 5,26% menjadi Rp53.000 per kg," demikian informasi yang dihimpun. Kenaikan harga cabai ini berpotensi memicu inflasi pada kelompok bahan pangan segar.

Minyak goreng kemasan bermerek 2 pun turut mengalami kenaikan harga, meskipun porsinya terbilang kecil. Kenaikan ini perlu menjadi perhatian karena minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang digunakan hampir setiap hari oleh masyarakat.