BISNIS.HOTNEWS.ID - Saham-saham di kawasan Asia diproyeksikan akan melanjutkan tren positif pada hari Rabu ini, menandai kenaikan untuk sesi perdagangan kedua berturut-turut. Proyeksi ini muncul setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan yang signifikan.
Perlambatan inflasi AS tersebut secara efektif meredakan kekhawatiran pasar global mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve dalam waktu dekat. Hal ini memberikan dorongan kepercayaan bagi para investor.
Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang lebih rendah dari perkiraan menjadi katalis utama yang memicu reli di Wall Street pada sesi sebelumnya. Sentimen positif ini kemudian merambat ke bursa-bursa Asia.
Beberapa bursa saham utama di Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Hong Kong, mengindikasikan pembukaan yang lebih tinggi pada hari Rabu. Kinerja positif ini melanjutkan tren yang telah terlihat di pasar Amerika Serikat.
Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 tercatat melanjutkan kenaikannya sepanjang bulan ini. Hal ini didukung oleh hasil laporan keuangan kuartal pertama yang solid dari sejumlah bank-bank besar di awal musim laporan keuangan.
Sektor teknologi juga menunjukkan performa apik, dengan indeks Nasdaq 100 yang ditopang oleh kenaikan saham produsen chip sebesar 1,1%. Namun, International Business Machines Corp. (IBM) mengalami penurunan drastis sebesar 25% akibat penjualan yang tidak memenuhi ekspektasi.
"Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan tipis di awal perdagangan Asia," demikian kutipan dari Bloomberg.
Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh pernyataan Amerika Serikat yang menyatakan telah melanjutkan blokade laut terhadap kapal-kapal yang melintasi pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Pasukan AS juga dilaporkan melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran.
"Harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam sebulan pada hari Selasa," merupakan bagian dari analisis Bloomberg. Hal ini terjadi seiring para pedagang mencerna perubahan sikap Presiden AS Donald Trump terkait pembayaran kargo di Selat Hormuz, serta meningkatnya insiden penargetan kapal di perairan tersebut oleh Iran.