BISNIS.HOTNEWS.ID - Kekurangan chip memori yang melanda berbagai sektor industri, mulai dari komputer, otomotif, hingga perangkat elektronik, diprediksi akan terus berlanjut hingga melampaui tahun 2030. Prediksi suram ini datang dari Chief Executive Officer SK Hynix Inc., Kwak Noh-Jung.

Kondisi kelangkaan chip memori ini telah menciptakan fenomena baru di pasar. Pelanggan mulai mengambil langkah antisipatif dengan menandatangani kontrak pasokan berjangka panjang.

"Mereka meyakini bahwa situasi kelangkaan ini akan berlangsung lebih lama," ungkap Kwak Noh-Jung dalam sebuah wawancara eksklusif. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara pertamanya menggunakan Bahasa Inggris, pasca penawaran saham rekor di Amerika Serikat oleh perusahaan teknologi asal Korea Selatan tersebut pada hari Jumat lalu.

SK Hynix, bersama dengan para pesaing utamanya seperti Samsung Electronics Co. dan Micron Technology Inc., menjadi pemain kunci yang paling diuntungkan dari ledakan perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Lonjakan investasi besar-besaran oleh para operator pusat data global telah mendorong permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Permintaan tersebut tidak hanya mencakup chip memori konvensional, tetapi juga jenis memori yang lebih canggih, yaitu memori bandwidth tinggi atau HBM. Chip jenis ini sangat krusial untuk menunjang kinerja sistem AI yang semakin kompleks.

Perebutan pasokan chip memori yang semakin ketat ini diperparah dengan tingginya permintaan yang terus meluas. Akibatnya, kelangkaan chip memori terasa di berbagai lini, mulai dari komponen komputer pribadi, smartphone terbaru, hingga kendaraan modern.

Analisis mendalam yang dilakukan oleh SK Hynix menunjukkan bahwa krisis pasokan ini berpotensi akan terus berlanjut hingga dekade mendatang. "Sinyal dari pelanggan juga menunjukkan ekspektasi akan periode yang berkepanjangan tanpa ketersediaan chip memori yang cukup," jelas Kwak Noh-Jung dalam wawancara yang berlangsung di New York tersebut.

Dikutip dari Bloomberg, Kwak Noh-Jung menegaskan bahwa situasi kelangkaan chip memori yang mengguncang pasar global ini bukan masalah sementara. Perusahaan-perusahaan besar di berbagai sektor telah menyadari implikasi jangka panjang dari krisis ini dan mulai menyesuaikan strategi mereka.

"Mereka meyakini bahwa situasi kelangkaan ini akan berlangsung lebih lama," ujar Kwak Noh-Jung. Keyakinan ini tercermin dari keputusan pelanggan yang mulai menandatangani kontrak jangka panjang untuk mengamankan pasokan chip memori di masa depan.