BISNIS.HOTNEWS.ID - Kekhawatiran akan arah kebijakan moneter Amerika Serikat mulai terasa di kawasan Asia, di mana pasar saham dan obligasi diprediksi akan mengalami tekanan. Hal ini dipicu oleh sinyal kuat dari Federal Reserve (The Fed) yang mengindikasikan perlunya kenaikan suku bunga acuan lebih lanjut dalam upaya mengendalikan inflasi yang masih tinggi.

Pergerakan awal pasar di Asia menunjukkan sentimen negatif yang dominan, sebagaimana tercermin dari kontrak berjangka indeks saham utama. Kontrak berjangka untuk pasar Jepang, Korea Selatan, dan Australia mengindikasikan bahwa pembukaan perdagangan pada hari Kamis (18/6) kemungkinan akan dibuka dalam zona merah.

Sentimen negatif ini merupakan reaksi berantai dari apa yang terjadi di pasar Amerika Serikat sehari sebelumnya. Di AS, indeks S&P 500 tercatat mengalami penurunan signifikan sebesar 1,2% dan ditutup mendekati level terendah hariannya, sementara Nasdaq 100 juga terpangkas 1%.

Meskipun sempat terjadi sedikit penguatan tipis pada kontrak berjangka saham AS pada awal sesi perdagangan Asia pagi ini—yang memberikan sedikit jeda—kondisi pasar komoditas menunjukkan tekanan berbeda. Harga minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan langsung dibuka melemah pada perdagangan Kamis (18/6).

Pasar surat utang di kawasan regional juga bersiap menghadapi gelombang aksi jual yang diperkirakan menyusul pelemahan yang terjadi pada surat utang pemerintah AS atau Treasury. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai biaya pinjaman yang lebih tinggi telah meluas ke pasar utang di Asia.

Pasar uang AS saat ini memproyeksikan bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan besar akan terjadi pada bulan September mendatang, dan bahkan sudah sepenuhnya diperhitungkan untuk keputusan di bulan Oktober. Proyeksi ini muncul karena sekitar separuh dari anggota komite kebijakan The Fed memperkirakan adanya kenaikan suku bunga lagi tahun ini.

Gejolak ekspektasi kebijakan ini tercermin jelas pada obligasi Treasury tenor dua tahun, yang dikenal sangat sensitif terhadap kebijakan The Fed. Imbal hasil obligasi tersebut melonjak sebanyak 13 basis poin, mencapai level 4,18%, sementara mata uang Dolar AS juga terpantau menguat signifikan terhadap mata uang lainnya.

Di Asia, pelemahan mata uang lokal juga menjadi sorotan utama, terutama yen Jepang yang terdepresiasi ke level terendah terhadap dolar AS sejak Juli 2024. Kondisi ini dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko intervensi lebih lanjut dari otoritas moneter Jepang untuk menstabilkan nilai tukarnya.

Dilansir dari Bloomberg, sentimen pasar secara keseluruhan menunjukkan bahwa para investor global tengah menyesuaikan portofolio mereka terhadap lingkungan suku bunga yang lebih tinggi dan kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral Amerika Serikat.