BISNIS.HOTNEWS.ID - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, akhirnya memberikan penjelasan mendalam mengenai alasan di balik penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang sempat ditempatkan di bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Keputusan ini ternyata memiliki latar belakang strategis terkait koordinasi kebijakan.

Penarikan dana tersebut bukanlah langkah yang diambil secara mendadak atau tanpa pertimbangan matang. Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa tindakan itu bertujuan untuk menyelaraskan kebijakan fiskal yang dijalankan pemerintah dengan kebijakan moneter yang dipegang oleh Bank Indonesia.

Saat rapat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan adanya arahan khusus dari otoritas moneter. Bank Indonesia memberikan sinyal agar pemerintah tidak terlalu dalam mencampuri urusan kebijakan moneter mereka.

"Saya bukan mau mengambil uang secara tiba-tiba. Sebetulnya, keinginan saya adalah untuk menambah sebanyak-banyaknya dana yang ada," ungkap Purbaya Yudhi Sadewa. Namun, ia mengakui posisinya sebagai bendahara negara berbeda dengan bank sentral.

"Tetapi kan saya bukan bank sentral," jelas Purbaya Yudhi Sadewa. Ia memaparkan bahwa ketika Bank Indonesia memberikan kode agar tidak ikut campur dalam kebijakan moneter, ia memutuskan untuk mematuhinya.

"Ketika bank sentral memberi kode ke saya jangan ikut campur kebijakan moneter, ya saya ikut," ujar Purbaya Yudhi Sadewa. Hal ini menunjukkan adanya komunikasi dan koordinasi yang baik antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.

Bank Indonesia, melalui kode tersebut, menyarankan agar pemerintah mengurangi penempatan dana di bank-bank BUMN. Sebagai gantinya, bank sentral menjanjikan akan melakukan penggantian dana tersebut.

"Mereka bilang kurangi uang kamu, kami akan ganti," kata Purbaya Yudhi Sadewa. Arahan ini menjadi dasar utama penarikan dana yang sempat menjadi perhatian publik.

Pertemuan yang mengungkapkan hal ini berlangsung dalam forum rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada hari Rabu, 15 Juli 2026. Momen ini menjadi ajang klarifikasi Purbaya Yudhi Sadewa mengenai langkah strategis yang diambilnya.