BISNIS.HOTNEWS.ID - Pergerakan harga minyak mentah global terpantau mengalami tekanan turun setelah adanya indikasi peningkatan arus lalu lintas kapal tanker yang melintasi jalur perairan strategis Selat Hormuz. Fenomena ini terjadi seiring dengan adanya perkembangan positif dalam upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri ketegangan yang telah berlangsung.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat diperdagangkan mendekati level harga US$73 per barel. Penurunan ini merupakan lanjutan dari pelemahan yang sempat terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya, yaitu kurang dari 1%.

Sementara itu, harga acuan minyak mentah internasional, Brent, juga menunjukkan pelemahan dan ditutup sedikit di atas angka US$77 per barel pada penutupan perdagangan terakhir. Penurunan harga ini secara langsung merefleksikan sentimen pasar yang mulai membaik terkait keamanan maritim.

Indikasi peningkatan kepercayaan dari para pemilik kapal terlihat jelas dari data pelintasan di selat tersebut. Kapal-kapal tanker kini dilaporkan melintasi Hormuz dengan mengaktifkan sinyal satelit mereka, menandakan kesiapan operasional yang lebih tinggi.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) turut memberikan konfirmasi mengenai situasi keamanan yang membaik di kawasan tersebut. "Organisasi Maritim Internasional mengatakan telah menerima jaminan keselamatan yang memungkinkan ratusan kapal untuk keluar dari Teluk Persia," demikian disampaikan oleh perwakilan organisasi tersebut.

Adapun pemicu utama sentimen positif ini adalah sinyal kemajuan awal yang diisyaratkan oleh kedua negara, yakni Amerika Serikat dan Iran, terkait upaya pengakhiran konflik yang mulai memanas sejak akhir Februari lalu. Namun, proses negosiasi lanjutan diperkirakan akan memakan waktu dan masih terdapat perbedaan klaim yang muncul dari kedua belah pihak.

Secara paralel, ada perkembangan penting yang terjadi antara Iran dan salah satu negara tetangganya. Iran dan Oman dilaporkan telah memulai langkah konkret untuk menyusun kesepakatan terkait administrasi di Selat Hormuz.

Kesepakatan yang sedang dikerjakan ini mencakup pembahasan mengenai struktur biaya pengelolaan transit di jalur vital tersebut. Kekhawatiran pasar sempat muncul mengenai kemungkinan bahwa Teheran akan menetapkan biaya transit yang tinggi bagi kapal yang melintas.

Dilansir dari Bloomberg News, isu ini menjadi sorotan utama dalam analisis pasar energi global saat ini, sebagaimana ditulis oleh Yongchang Chin dan Gabriel Levin.